Oleh Abdulhakim Idris
Catatan Editor: Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Turki oleh Tamga Türk dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Center for Uyghur Studies (CUS).
“Etli tırñaklı eyirmes.”
“Daging tidak dapat dipisahkan dari kuku.”
— Mahmud al-Kashgari, Dīwān Lughāt al-Turk (Kompedium Bahasa-Bahasa Bangsa Turkik)
Di kalangan masyarakat Turkik, terdapat sebuah peribahasa sederhana namun mendalam yang menggambarkan bagaimana ikatan keluarga dan persaudaraan membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hanya dalam tiga kata, ungkapan ini menggambarkan hakikat ikatan yang seharusnya tidak dapat diputuskan: “Daging tidak dapat dipisahkan dari kuku.”
Ungkapan tersebut berasal dari Mahmud al-Kashgari, salah satu cendekiawan terkemuka dunia Turkik-Islam dari Turkistan Timur. Bentuk aslinya dalam bahasa Uyghur, “Etli tırñaklı eyirmes,” menggambarkan sebuah persatuan yang fundamental.
Namun, kini kita menyaksikan masa ketika ikatan tersebut—bahkan makna dari peribahasa itu sendiri—secara sistematis sedang dihancurkan.
Sejak awal 1990-an, kerangka budaya dan politik seperti International Organization of Turkic Culture (TÜRKSOY) dan Organization of Turkic States (OTS) menempatkan diri sebagai penjaga “dunia Turkik”. Namun, jika melihat lebih dekat keanggotaan dan aktivitas mereka, terlihat sebuah penghilangan yang mencolok: Turkistan Timur.
Meskipun merupakan tempat kelahiran al-Kashgari dan salah satu pusat lahirnya sumber-sumber tertulis tertua dalam bahasa Turkik, wilayah tersebut beserta masyarakat pribumi Uyghurnya secara sistematis tidak dilibatkan.
Di dalam organisasi yang dibentuk untuk memperkuat solidaritas tersebut, hampir tidak terlihat inisiatif yang mendukung bahasa atau masyarakat Uyghur.
Seolah-olah kebijaksanaan al-Kashgari telah dibuang; daging benar-benar telah dipisahkan dari kuku demi kepentingan ekonomi dan diplomatik.
Klaim Mewakili Seluruh Dunia Turkik
Organisasi internasional yang dibentuk untuk melembagakan persatuan budaya dunia Turkik mengklaim dalam dokumen pendirian dan retorika mereka bahwa mereka mencakup “seluruh masyarakat penutur bahasa Turkik.”
International Organization of Turkic Culture (TÜRKSOY) menggambarkan dirinya sebagai “organisasi kerja sama pertama yang didirikan di dunia Turkik” dan memiliki misi untuk mempromosikan warisan budaya serta memperkuat interaksi antarbahasa.
Misi tersebut diwujudkan setiap tahun melalui program penetapan “Ibu Kota Budaya Dunia Turkik”, sebuah gelar yang telah diberikan kepada 14 kota, mulai dari Astana hingga Andijan.
Namun, klaim inklusivitas tersebut berhenti di perbatasan Turkistan Timur.
Kashgar tetap menjadi salah satu pusat intelektual penting dalam sejarah dunia Turkik. Di sanalah al-Kashgari dilahirkan dan menyelesaikan Dīwān Lughāt al-Turk, kamus komprehensif pertama bahasa Turkik.
Namun, baik TÜRKSOY maupun OTS tidak memasukkan tanah air Uyghur dalam daftar anggota, pengamat, maupun ibu kota budaya mereka.
Orang-orang yang menjadi penjaga hidup warisan tersebut justru dibuat tidak terlihat oleh institusi yang mengklaim melindunginya.
Dua Peribahasa, Satu Kenyataan yang Berlawanan
Peribahasa “Etli tırñaklı eyirmes”, yang dicatat Mahmud al-Kashgari pada abad ke-11, menyampaikan bahwa daging tidak dapat dipisahkan dari kuku dan bahwa hubungan antara keluarga serta kerabat seharusnya sama-sama tidak terpisahkan.
Ungkapan lain dalam karya yang sama berbunyi:
“Tag tagka kavuşmas, kişi kişige kavuşur.”
“Gunung tidak bertemu gunung, tetapi manusia bertemu manusia.”
Ungkapan ini menggambarkan keyakinan bahwa hambatan geografis—termasuk gunung yang memisahkan—pada akhirnya tidak seharusnya mampu memutus hubungan antarmanusia.
Namun, jika melihat peta kelembagaan dunia Turkik hari ini, kita justru menemukan keadaan yang berlawanan.
Daging telah dipisahkan dari kuku.
Dan Turkistan Timur, yang berada di balik pegunungan, bukannya didekatkan sebagaimana manusia seharusnya saling mendekat, justru dijauhkan dari institusi-institusi tersebut.
Tanah tempat Mahmud al-Kashgari dilahirkan, tempat ia menyusun karyanya, dan tempat ia kembali pada akhir hidupnya, tidak muncul dalam peta organisasi yang kini merayakan warisannya sebagai “harta bersama dunia Turkik.”
Pertanyaan utama laporan ini muncul dari kenyataan tersebut:
Bagaimana mungkin daging bisa begitu terpisah dari kuku sehingga dunia Turkik, pada tingkat kelembagaan, menjadi begitu jauh dari masyarakat Uyghur?
Analisis ini berupaya mencari jawaban atas pertanyaan tersebut dengan mengkaji organisasi-organisasi terkait serta alasan diplomatik dan ekonomi di balik pengecualian tersebut.
TÜRKSOY dan Pengabaian terhadap Uyghur
Organisasi pertama yang perlu dilihat adalah International Organization of Turkic Culture (TÜRKSOY) karena aktivitasnya secara publik lebih menonjol dibandingkan organisasi lainnya.
TÜRKSOY didirikan melalui perjanjian yang ditandatangani di Almaty pada 12 Juli 1993 oleh para menteri kebudayaan Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Turki.
Asal-usul organisasi ini bermula dari pertemuan di Baku dan Istanbul pada 1992, ketika para menteri kebudayaan dari enam negara tersebut menyatakan komitmen untuk bekerja sama dalam kerangka budaya bersama.
Saat ini, TÜRKSOY memiliki enam anggota pendiri dan delapan wilayah dengan status pengamat: Republik Turki Siprus Utara, serta Republik Tatarstan, Bashkortostan, Altai, Sakha (Yakutia), Tuva, dan Khakassia—semuanya bagian dari Federasi Rusia—serta Gagauzia yang merupakan bagian dari Moldova.
Salah satu kegiatan utama TÜRKSOY adalah program Ibu Kota Budaya Dunia Turkik, yang dimulai sejak 2012.
Kota-kota yang telah ditetapkan adalah:
- Astana (2012)
- Eskişehir (2013)
- Kazan (2014)
- Merv (2015)
- Şeki (2016)
- Turkistan (2017)
- Kastamonu (2018)
- Osh (2019)
- Khiva (2020)
- Bursa (2022)
- Shusha (2023)
- Anev (2024)
- Aktau (2025)
- Andijan (2026)
Tidak satu pun dari 14 kota tersebut berada di wilayah Uyghur.
Kashgar tidak ada. Urumqi tidak ada. Hotan tidak ada. Turpan tidak ada.
Organization of Turkic States
Selain TÜRKSOY, terdapat struktur lain yang melembagakan kerja sama dunia Turkik dan memiliki basis keanggotaan yang hampir sama.
Organisasi yang didirikan pada 2009 dengan nama “Cooperation Council of Turkic-Speaking States” (Turkic Council) kemudian berganti nama menjadi Organization of Turkic States (OTS) pada KTT Istanbul pada November 2021.
Anggota penuhnya adalah Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, dan Turki. Sementara Hungaria, Republik Turki Siprus Utara, dan Turkmenistan berstatus pengamat.
TÜRKSOY kemudian menjadi salah satu organisasi yang berafiliasi dengan OTS.
Organisasi lain di bawah payung yang sama meliputi:
- Turkic States Parliamentary Assembly (TÜRKPA)
- International Turkic Academy
- Turkic Culture and Heritage Foundation
- Turkic States Joint Chamber of Commerce and Industry
Meskipun masing-masing institusi bergerak di bidang yang berbeda—diplomasi parlementer, penelitian akademik, warisan budaya, dan sebagainya—peta keanggotaan serta pengamat mereka pada dasarnya mengulang daftar negara yang sama.
TÜRKPA: Tanpa Representasi Uyghur
Turkic States Parliamentary Assembly (TÜRKPA) didirikan melalui perjanjian yang ditandatangani pada 21 November 2008 di Istana Dolmabahçe, Istanbul, oleh para ketua parlemen Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Turki.
Setelah didirikan, pada sidang umum pertamanya di Baku pada 29 September 2009, disahkan anggaran dasar internal TÜRKPA, peraturan Sekretariat, dan Deklarasi Baku. Baku kemudian ditetapkan sebagai markas permanen Sekretariat.
Dua anggota dengan status pengamat adalah Hungaria dan Republik Turki Siprus Utara. Uzbekistan sejak akhir 2017 dan Turkmenistan sejak 2020 hanya menghadiri pertemuan sebagai “tamu”, tanpa status anggota penuh maupun pengamat.
Setelah Turkic Council berganti nama menjadi OTS pada November 2021, TÜRKPA pada Sidang Umum ke-11 tahun 2022 mengubah namanya dari “Parliamentary Assembly of Turkic-Speaking Countries” menjadi “Turkic States Parliamentary Assembly”, namun tetap mempertahankan singkatan TÜRKPA.
Tujuan utamanya antara lain memperkuat hubungan antarnegara anggota melalui diplomasi parlementer, mengembangkan kerja sama politik, hukum, dan ekonomi, serta memajukan hubungan sosial dan budaya.
Namun, meskipun telah berusia lebih dari 17 tahun, tidak pernah ada wilayah Uyghur atau lembaga perwakilan dari wilayah tersebut dalam daftar anggota, pengamat, maupun tamu TÜRKPA.
Hal ini menunjukkan bahwa pengecualian terhadap bangsa Turkik Uyghur dari representasi politik di tingkat negara juga tercermin dalam kerja sama antarparlemen.
International Turkic Academy
Gagasan pendirian International Turkic Academy, salah satu organisasi yang berafiliasi dengan OTS, pertama kali diusulkan oleh Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev pada KTT IX Kepala Negara-Negara Penutur Bahasa Turkik di Nakhchivan pada 3 Oktober 2009.
Akademi tersebut didirikan pada 25 Mei 2010 di Palace of Peace and Reconciliation di Astana, awalnya dengan nama “Turkic Academy”, sebagai bagian dari Kementerian Pendidikan dan Sains Kazakhstan.
Akademi ini kemudian memperoleh status internasional melalui perjanjian yang ditandatangani pada KTT Turkic Council di Bishkek pada 23 Agustus 2012.
Anggota penuhnya adalah Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Turki. Hungaria memperoleh status pengamat pada 2018, sementara Uzbekistan menjadi pengamat pada KTT Samarkand 2022.
Akademi memiliki lima pusat penelitian di bidang:
- sejarah dan etnologi;
- bahasa, sastra, dan terminologi;
- seni dan budaya;
- studi sosial-ekonomi;
- studi internasional.
Akademi juga mengelola perpustakaan Turkologi dengan lebih dari 32.000 karya.
Antara 2013–2020, akademi menerbitkan jurnal Altaistics, Turkology and Mongolistics; antara 2014–2021, jurnal Global-Turk; dan antara 2015–2022, buletin Turkic Weekly.
Pada 2023, akademi menyelesaikan proyek buku bersama berjudul Common Turkic History, Common Turkic Literature, dan Geography of the Turkic World.
Meskipun misi akademi didefinisikan sebagai “menilai kontribusi peradaban Turkik terhadap peradaban manusia berdasarkan sumber-sumber pribumi,” cakupan penilaian tersebut tetap terbatas pada enam atau tujuh negara yang sama.
Tidak ada institusi Uyghur—yang mewakili suara politik masyarakat masa kini dari wilayah tempat Mahmud al-Kashgari dilahirkan dan menyusun Dīwān Lughāt al-Turk—yang tercantum dalam daftar anggota, pengamat, maupun mitra akademi.
Bahkan saat ini, pencarian kata “Uyghur” di situs akademi hanya menghasilkan satu tautan.
Tautan tersebut merupakan berita mengenai pameran foto yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Tiongkok untuk memperingati 70 tahun apa yang disebut sebagai “Daerah Otonomi Uyghur”—nama yang ditetapkan Tiongkok setelah menduduki Turkistan Timur.
Pencarian dengan ejaan bahasa Inggris menghasilkan total empat tautan, dan hanya dua di antaranya yang bahkan menyebut kata “Uyghur”.
Ketiadaan karya apa pun mengenai masyarakat Uyghur dalam organisasi akademik internasional dunia Turkik ini merupakan sebuah keadaan yang sangat disayangkan.
Mahmud al-Kashgari Ada, tetapi Uyghur Tidak!
Organisasi lain yang patut dikaji adalah Turkic Culture and Heritage Foundation, yang awalnya didirikan secara independen dan kemudian bergabung dengan OTS.
Yayasan ini dibentuk atas prakarsa Presiden Azerbaijan dengan dukungan presiden Kazakhstan, Kirgizstan, dan Turki. Piagamnya disahkan pada KTT Turkic Council di Bishkek pada 23 Agustus 2012.
Berkantor pusat di Baku, yayasan tersebut menandatangani perjanjian dengan pemerintah Azerbaijan pada 8 November 2018. Gedung administrasinya dibuka pada KTT Turkic Council di Baku pada 14 Oktober 2019. Pada KTT yang sama, Hungaria bergabung sebagai negara pengamat.
Anggota penuhnya adalah Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Turki. Uzbekistan menjadi anggota pada 2025.
Presiden yayasan saat ini, Aktoty Raimkulova, melaporkan dalam laporan kegiatan 2024 bahwa lebih dari 74 proyek dan kegiatan telah dilaksanakan, termasuk restorasi museum rumah Alykul Osmonov di Bishkek, Katalog Warisan Budaya Turkik, dukungan terhadap World Nomad Games ke-5, serta seri buku Outstanding Figures of the Turkic World, Pearls of Turkic Literature, dan Scientific Treasures of the Turkic World.
Yang sangat relevan dalam konteks ini adalah bahwa yayasan tersebut menyelenggarakan konferensi ilmiah internasional dan pameran di markas UNESCO di Paris untuk memperingati 950 tahun Dīwān Lughāt al-Turk karya Mahmud al-Kashgari.
Di sinilah kontradiksi tersebut terlihat sangat jelas:
Sebuah institusi memperingati di UNESCO Paris penulis karya fundamental bahasa Turkik, tetapi tidak memberikan status keanggotaan, pengamat, maupun representasi apa pun kepada masyarakat Uyghur yang hidup di wilayah tempat karya tersebut lahir.
Kontradiksi ini secara konkret menggambarkan tesis utama artikel ini:
Mahmud al-Kashgari diterima secara simbolis dan budaya, tetapi tidak ada pintu yang dibuka pada tingkat politik dan kelembagaan bagi masyarakat Uyghur yang menjadi pewaris hidup warisan tersebut.
Jika kita melihat negara-negara anggota organisasi yang disebutkan di atas, serta tamu dan pengamat yang berpartisipasi dalam kegiatan mereka, menjadi jelas bahwa tidak pernah ada satu pun acara yang menghadirkan akademisi Uyghur, ahli bahasa Uyghur, tokoh opini Uyghur, atau individu yang mewakili wilayah Uyghur.
Gambaran ini menunjukkan bahwa pengecualian tersebut bukan sekadar persoalan “kurangnya informasi” atau “ketidakmatangan kelembagaan”, melainkan praktik eksklusi sistematis yang terus berulang selama lebih dari 30 tahun di lima institusi berbeda yang didirikan pada waktu berbeda dan bergerak di bidang yang berbeda.
Bahkan republik-republik otonom yang merupakan bagian dari Federasi Rusia, dengan populasi yang tidak lebih dari beberapa ratus ribu orang—misalnya Khakassia dengan populasi sekitar 500.000 jiwa—dapat memperoleh status pengamat.
Sementara itu, masyarakat Uyghur yang berjumlah sekitar 20 juta orang tidak pernah memperoleh bentuk representasi apa pun.
Alasan Utama Pengecualian: Faktor Tiongkok
Lalu, mengapa masyarakat Uyghur begitu jauh dikecualikan dari organisasi masyarakat Turkik lainnya?
Untuk memahami pertanyaan ini, tempat pertama yang perlu dilihat adalah Turki, karena secara historis Turki merupakan negara yang memiliki ikatan paling kuat dengan masyarakat Uyghur maupun komunitas Turkik lainnya.
Namun, sikap historis Turki terhadap isu Uyghur telah mengalami perubahan yang signifikan.
Dalam proses yang diteliti oleh peneliti Yitzhak Sichor melalui konsep “etno-diplomasi”, hingga pertengahan 1990-an Turki menjadi sumber inspirasi ideologis bagi nasionalisme Uyghur, memberikan hak suaka kepada pengungsi Uyghur, serta memberikan dukungan material dan moral kepada organisasi Uyghur.
Dampak perubahan tersebut juga telah terdokumentasi.
Menurut laporan Human Rights Watch pada November 2025, sejak hubungan Turki-Tiongkok mulai kembali menguat pada 2022, masyarakat Uyghur yang tinggal di Turki secara berkala mulai menghadapi berbagai kesulitan.
Analisis BBC Turkish pada Oktober 2025 juga menunjukkan bahwa setelah Presiden Erdoğan pada 2009 menyebut kebijakan di wilayah Uyghur sebagai “kebiadaban” dan “genosida”, semakin dalamnya hubungan ekonomi Turki-Tiongkok diikuti perubahan nyata dalam retorika pemerintah Turki menjadi jauh lebih berhati-hati.
Pengaruh Tiongkok terhadap diaspora Uyghur tidak hanya terasa di tingkat resmi, tetapi juga langsung pada tingkat komunitas.
Penelitian mengenai hal tersebut menunjukkan bahwa badan intelijen Tiongkok memantau komunitas diaspora, menyusup ke dalam organisasi, dan mendorong komunitas tersebut menuju “kelumpuhan dan kepasifan” di negara-negara dengan populasi Uyghur besar, termasuk Turki.
Penelitian lainnya juga mendokumentasikan bahwa Tiongkok, melalui staf kedutaan dan konsulatnya, menekan masyarakat Uyghur di Turki untuk mengumpulkan informasi dengan mengancam anggota keluarga mereka yang masih berada di tanah air.
Pengaruh regional Tiongkok tidak hanya terbatas pada Turki, tetapi juga menjangkau negara-negara anggota TÜRKSOY dan OTS lainnya.
Retorika “kontraterorisme” yang berkembang dalam kerangka Shanghai Cooperation Organisation telah membuat negara-negara Asia Tengah mengambil sikap hati-hati, bahkan represif, terhadap komunitas dan aktivisme Uyghur di wilayah mereka sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara tersebut bertindak karena kekhawatiran untuk tidak menyinggung Tiongkok.
Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa seluruh negara anggota TÜRKSOY dan OTS memiliki kepentingan yang sama untuk menjauhkan isu Turkistan Timur dari agenda mereka: tidak satu pun ingin mempertaruhkan hubungan ekonomi dan keamanan dengan Tiongkok.
Erosi Legitimasi Budaya
Gambaran ini menciptakan ketegangan serius antara retorika inklusif yang dibawa TÜRKSOY dan struktur serupa—yang mengklaim diri sebagai “UNESCO dunia Turkik”—dengan kenyataan di lapangan.
Ketika sebuah institusi mengklaim mewakili keseluruhan rumpun bahasa dan wilayah budaya, tetapi secara sistematis mengecualikan wilayah tempat sumber tertulis tertua bahasa tersebut lahir serta lebih dari sebelas juta penduduk pribuminya, klaim universalitas institusi tersebut menjadi dipertanyakan.
Pengecualian ini bukan hanya kekurangan simbolis.
Hal tersebut juga menghasilkan konsekuensi nyata dengan menghambat visibilitas internasional bahasa, sastra, dan warisan budaya Uyghur.
Pada saat yang sama, penyebab pengabaian ini bukanlah niat buruk atau ketidaktahuan institusi-institusi tersebut, melainkan bentuk swalimitasi atau sensor diri yang dipaksakan oleh hubungan ekonomi dan strategis yang dimiliki negara-negara anggota dengan Tiongkok.
Perbedaan ini penting agar kritik diarahkan kepada sasaran yang tepat.
Persoalannya bukan semata-mata kehendak mereka yang membawa nama “organisasi masyarakat Turkik”, tetapi sebuah persamaan geopolitik yang lebih luas dan turut membatasi mereka.
Kesimpulan
Singkatnya, analisis ini mengungkap kontradiksi antara klaim pendirian struktur kerja sama budaya dunia Turkik dengan praktik mereka yang sebenarnya.
Institusi seperti TÜRKSOY dan Organization of Turkic States telah mengklaim selama lebih dari 30 tahun bahwa mereka mewakili persatuan budaya masyarakat penutur bahasa Turkik.
Namun, klaim tersebut kehilangan validitasnya ketika menyangkut Turkistan Timur dan bangsa Turkik Uyghur.
Contoh historis seperti Dīwān Lughāt al-Turk menunjukkan posisi sentral wilayah ini dalam kebudayaan Turkik. Namun, peta kelembagaan organisasi-organisasi tersebut tidak mencerminkannya.
Bukti menunjukkan bahwa pengecualian tersebut berkaitan dengan tekanan regional Tiongkok dan ketergantungan ekonomi negara-negara anggota.
Laporan ini bertujuan membawa kesenjangan legitimasi tersebut ke dalam perdebatan publik serta membuat warisan budaya Uyghur lebih terlihat melalui inisiatif diaspora dan masyarakat sipil.
Temuan ini bukan sekadar observasi akademis.
Temuan ini menunjukkan adanya tanggung jawab moral yang besar.
Keheningan selama 30 tahun ini merupakan bentuk pengabaian sadar terhadap masyarakat Uyghur dan tanah air Mahmud al-Kashgari.
Ketika ikatan antara masyarakat-masyarakat tersebut diputus, klaim dunia Turkik mengenai persatuan menjadi terdengar hampa.
Sikap yang didorong oleh perhitungan politik dan ekonomi jangka pendek ini pada akhirnya akan menghadapi pertanggungjawaban sejarah.
Ketika lanskap politik berubah, institusi-institusi tersebut akan dikenang karena meninggalkan masyarakat Uyghur pada saat mereka paling membutuhkan dukungan.
Mengakhiri pengabaian kelembagaan ini bukan sekadar pilihan moral.
Ini merupakan prasyarat agar organisasi-organisasi tersebut tetap setia pada alasan keberadaan mereka sendiri.
Referensi:
1. TÜRKSOY, “History,” TÜRKSOY, https://www.turksoy.org/tarihce
2. TÜRKSOY, “Cultural Capitals,” TÜRKSOY, https://www.turksoy.org/kultur-baskentleri
3. Hürriyet, “Who Is Mahmud al-Kashgari? The Author of Dīwān Lughāt al-Turk,” Hürriyet, https://www.hurriyet.com.tr/gundem/kasgarli-mahmud-kimdir-divan-i-lugatit-turkun-yazari-40969847
4. Mahmud al-Kashgari, “Dīwān Lughāt al-Turk,” Turkish Language Association Publications, 1998, https://yenidenergenekon.com/7-divan-i-lugati’t-turk’te-atasozleri/
5. Organization of Turkic States, “Official Website,” Organization of Turkic States, https://turkicstates.org/tr
6. TÜRKPA, “About TÜRKPA,” TÜRKPA, https://turkpa.org/tr/about
7. International Turkic Academy, “About the Academy,” International Turkic Academy, https://turkicacademy.org/en/about/ob-akademii
8. Online Zakon.kz, “Agreement on the Establishment of the Turkic Academy,” Online Zakon.kz, 2012, https://online.zakon.kz/Document/?doc_id=31245170
9. Organization of Turkic States, “Turkic Academy – Partner Detail,” Organization of Turkic States, https://www.turkicstates.org/tr/partner-detay/turkic-academy-tr
10. Turkic Academy, “Photo Exhibition Commemorating the 70th Anniversary of the Xinjiang Uygur Autonomous Region,” Turkic Academy, 2025, https://turkicacademy.org/en/novost-akademii/turkic-academy-participated-opening-ceremony-photo-exhibition-commemorating-70th-anniversary-xinjiang-uygur-autonomous-region
11. Turkic Culture and Heritage Foundation, “Official Website,” Turkic Culture and Heritage Foundation, https://turkicheritage.org/tr
12. Turkic Culture and Heritage Foundation, “History,” Turkic Culture and Heritage Foundation, https://turkicheritage.org/tr/Home/History
13. TurkicWorld, “2nd Expert-Level Meeting at the Headquarters of the Turkic Culture and Heritage Foundation,” TurkicWorld, 2025, https://turkic.world/en/articles/other/327040
14. Yitzhak Sichor, “Ethno-Diplomacy: The Uyghur Hitch in Sino-Turkish Relations,” East-West Center, https://scholarspace.manoa.hawaii.edu/bitstreams/db86c9f0-5316-4175-aa8a-bcf781078ee8/download
15. Human Rights Watch, “Protected No More,” Human Rights Watch, 2025, https://www.hrw.org/report/2025/11/12/protected-no-more/uyghurs-in-turkiye
16. BBC Turkish, “Turkey-China Rapprochement: Has the Uyghur Issue Fallen Off the Agenda?,” BBC Turkish, 2025, https://www.bbc.com/turkce/articles/ckgywgxrg0po
17. Uyghur Human Rights Project, “The Fifth Poison: The Harassment of Uyghur Overseas,” Uyghur Human Rights Project, https://uhrp.org/report/the-fifth-poison-the-harassment-of-uyghur-overseas/
18. QHA, Crimean News Agency, “How Does China’s Pressure on Uyghur Turks Living in Turkey Work?,” QHA, 2023, https://www.qha.com.tr/ozel-haber-roportaj/cin-in-turkiye-de-yasayan-uygur-turkleri-uzerindeki-baskisi-nasil-isliyor-477189
Copyright Center for Uyghur Studies - All Rights Reserved
