Oleh Abdulhakim Idris
Pertama kali Gulnisa menyadari ada sesuatu yang berubah, bukan dari wajah atau tubuh anaknya. Perubahan itu hadir dalam sebuah jeda—jeda kecil yang mudah terlewat jika kita tidak benar-benar memperhatikannya.
Ia mengajukan pertanyaan sederhana dalam bahasa Uyghur, pertanyaan yang biasanya keluar begitu saja saat berbicara dengan anak: Sudah makan? Capek? Anaknya menatapnya, lalu menunduk, seolah mencari sesuatu di lantai. Ketika menjawab, kata-katanya keluar dalam bahasa Mandarin. Kalimatnya benar. Nadanya sopan. Namun bahasanya bukan miliknya—bukan bahasa yang sejak lahir membawakan nina bobo, teguran, dan candaan keluarga.
Gulnisa mencoba lagi dalam bahasa Uyghur, kali ini lebih pelan, mengulang pertanyaan yang sama. Ekspresi anaknya menegang: bingung, lalu canggung, lalu cepat menutupinya. Ia kembali menjawab dalam bahasa Mandarin, sedikit lebih keras, seolah volume bisa menyelesaikan masalah.
Kelak, saat menceritakan momen itu kepada seorang teman, Gulnisa tidak menggunakan bahasa politik. Ia tidak mengatakan asimilasi atau pemaksaan. Ia memilih kata yang jauh lebih personal, dan jauh lebih menyakitkan: “Rasanya seperti dia sudah pindah jauh. Dia jadi orang asing, padahal duduk tepat di depanku.”
Sebagian orang Uyghur menceritakan pengalaman serupa. Mereka yang mengunjungi wilayah Uyghur dalam beberapa bulan terakhir mengatakan bahwa mereka bertemu anak-anak yang hanya bisa berbahasa Mandarin dan kesulitan berkomunikasi dengan anggota keluarga mereka sendiri. Pola ini sejalan dengan kekhawatiran utama para peneliti dan kelompok hak asasi manusia: satu generasi anak Uyghur sedang tumbuh dalam lingkungan di mana bahasa Mandarin menjadi satu-satunya bahasa yang diizinkan.
Otoritas Tiongkok melarang penggunaan bahasa Uyghur di sekolah sejak September 2017. Sejak itu, anak-anak Uyghur, Kazakh, dan kelompok Turki lainnya kehilangan akses pendidikan dalam bahasa ibu mereka. Buku pelajaran dan materi belajar berbahasa Uyghur dimusnahkan. Banyak guru Uyghur ditahan di kamp-kamp konsentrasi, sementara yang lain dipaksa mengajar anak Uyghur hanya dalam bahasa Mandarin.
Di Turkistan Timur (yang disebut sebagai Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang), bahasa tidak pernah sekadar alat komunikasi. Ia adalah pintu masuk ke sejarah keluarga, identitas, dan agama; irama cerita dan peribahasa; kode yang memungkinkan kakek-nenek mewariskan pandangan hidup tanpa harus menjelaskannya panjang lebar. Kehilangan bahasa bukan sekadar lupa kosakata. Ia berarti hilangnya warisan bersama, akar yang dalam, dan rasa memiliki yang tak bisa digantikan oleh terjemahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, jurnalis, akademisi, dan organisasi HAM melaporkan meluasnya sekolah berasrama dan panti asuhan yang dikelola negara. Para pengkritik menilai bahwa ketika anak-anak tumbuh terpisah dari kehidupan keluarga—sering kali setelah orang tua mereka ditahan atau dipaksa menghilang—dan dibenamkan dalam sistem asrama berbahasa Mandarin, yang terjadi adalah pembentukan ulang identitas secara mendalam. Ini bukan sekadar perubahan budaya. Ini adalah perubahan etnis. Ini adalah penghancuran identitas Uyghur secara sengaja.
Persoalannya bukan apakah anak-anak perlu belajar bahasa Mandarin. Persoalannya adalah apakah anak-anak dipisahkan dari keluarganya, dan apakah sistem pendidikan yang mengelilingi mereka berjalan secara bebas, atau di bawah tekanan yang membuat persetujuan sejati hampir mustahil. Apa artinya tumbuh di tempat di mana bahasa ibu dilarang dan perlahan menjadi bahasa asing?
Sekolah berasrama ada di mana-mana. Di banyak negara, ia adalah privilese mahal yang dipilih keluarga demi prestise. Di tempat lain, ia menjadi solusi praktis di wilayah terpencil. Yang membuat sekolah berasrama di wilayah Uyghur begitu kontroversial adalah konteksnya: laporan berulang tentang pengawasan masif, pembatasan ekspresi budaya dan agama, serta kampanye politik yang bertujuan membentuk ulang kehidupan sosial dan mengubah satu bangsa menjadi bangsa lain.
Sebagian keluarga menggambarkan keputusan yang sebenarnya bukan keputusan. Situasinya menjadi semakin rumit ketika orang tua menghilang, perjalanan dibatasi, dan komunikasi diawasi. Lebih rumit lagi ketika keluarga takut bahwa sedikit keraguan saja bisa ditafsirkan sebagai ketidaksetiaan. Saat ini, lebih dari satu juta anak Uyghur dipaksa masuk dan ditahan di sekolah berasrama milik negara untuk diasimilasi dan dipisahkan dari warisan serta identitas mereka.
Dalam laporan paling mengkhawatirkan, anak-anak ditempatkan dalam pengasuhan negara atau sekolah berasrama setelah satu atau kedua orang tua mereka ditahan, dipenjara, atau disingkirkan dari kehidupan sehari-hari. Para pengkritik bertanya: apa yang terjadi dengan hak keluarga dan keberlanjutan budaya ketika negara Komunis menjadi wali utama? Kerabat mungkin takut turun tangan terlalu jauh karena bisa menyeret seluruh keluarga ke dalam pengawasan. Tanpa orang tua, perpisahan singkat bisa berubah menjadi bertahun-tahun, dan penempatan “sementara” menjadi bentuk masa kecil itu sendiri.
Sekolah berasrama lalu menjadi “normal.” Ketika sudah dinormalisasi, waktu anak di rumah menyusut: minggu menjadi akhir pekan, akhir pekan menjadi libur singkat, dan rumah bukan lagi ruang pembentukan harian, melainkan tempat istirahat sementara.
Sebagian kesaksian menyoroti sesuatu yang lebih sulit didokumentasikan: rasa takut. Orang tua mungkin mengirim anaknya pergi bukan karena ingin, tetapi karena merasa patuh lebih aman daripada melawan. Dalam masyarakat yang memberi ganjaran pada kepatuhan dan menghukum “keras kepala,” orang belajar patuh bahkan sebelum diminta. Inilah yang membuat perdebatan ini begitu sulit. Pejabat bisa menunjuk prosedur dan formulir bertanda tangan. Keluarga menunjuk kenyataan hidup mereka: tanda tangan dengan tangan gemetar, pilihan yang diambil dalam kabut ketakutan.
Perubahan pertama yang paling terlihat, menurut banyak keluarga, adalah bahasa. Anak-anak mulai menjawab dalam bahasa Mandarin secara otomatis. Bahasa Uyghur menjadi asing, atau digunakan dengan terbata-bata. Pada akhirnya, sebagian anak menghindari bahasa Uyghur sama sekali—bukan karena membencinya, tetapi karena bahasa itu menandai mereka sebagai “berbeda” di lingkungan di mana perbedaan bisa dihukum.
Otoritas Tiongkok mempercepat penghapusan bahasa Uyghur dan menggantinya dengan bahasa Mandarin melalui desain kelembagaan. Bahasa Uyghur mulai terasa seperti bahasa tanpa masa depan.
Bahasa tidak pernah netral. Bahasa yang digunakan anak membentuk buku apa yang mereka baca, lelucon apa yang mereka pahami, sejarah mana yang mereka warisi, dan konsep agama mana yang terasa hidup, bukan sekadar abstrak. Seorang anak mungkin masih tahu bahwa dirinya Uyghur, tetapi merasakan kehidupan Uyghur sebagai sesuatu yang jauh—seperti museum yang milik orang lain. Seorang orang tua menggambarkannya begini: “Dia tidak lupa siapa dirinya. Dia lupa bagaimana menjadi dirinya.”
Dalam konteks di mana ekspresi budaya Uyghur diperlakukan sebagai sesuatu yang sensitif secara politik, bertahan hidup sering kali berarti mengecilkan identitas agar muat dalam batas yang disetujui. Pengecilan ini tidak selalu disadari. Lama-kelamaan, ia terasa normal. Anak mungkin berhenti menganggapnya sebagai penyembunyian, dan mulai menganggapnya sebagai kedewasaan.
Bahkan di luar politik, perpisahan panjang dari orang tua dapat meninggalkan dampak jangka panjang. Anak membutuhkan stabilitas: pengasuh yang konsisten, dukungan emosional yang dapat diprediksi, dan rumah tempat mereka bisa berbuat salah tanpa rasa takut. Ketika orang tua tiba-tiba atau lama menghilang, anak bisa beradaptasi secara lahiriah sambil memendam tekanan batin.
Sebagian menjadi terlalu patuh. Sebagian menjadi datar secara emosional. Sebagian cepat marah. Banyak yang mengembangkan kebiasaan memindai bahaya: membaca wajah, menyesuaikan bahasa, mengantisipasi hukuman. Itu adalah keterampilan bertahan hidup. Itu bukan kesejahteraan.
Kini tambahkan tekanan budaya. Ketika anak belajar—secara langsung atau tidak—bahwa bahasa ibu dan adatnya inferior atau berisiko, kehilangan itu makin dalam. Mereka bukan hanya terpisah dari orang tua. Mereka terpisah dari makna yang diwakili orang tua. Cinta menjadi rumit oleh rasa takut. Identitas menjadi rumit oleh pengawasan.
Dan ketika anak-anak pulang, jarak itu bisa terasa memilukan. Orang tua menginginkan kehangatan, anak membawa formalitas. Orang tua menginginkan cerita, anak membawa keheningan. Orang tua ingin berbicara Uyghur, anak membawa bahasa Mandarin. Pertemuan kembali mengeras: bahasa apa, topik apa, kenangan mana yang aman?
Bagi orang Uyghur, taruhannya melampaui rasa sakit individual. Budaya hidup melalui keseharian: cerita di meja makan, doa yang diulang, adat yang diserap tanpa diajarkan. Ketika anak-anak lama hidup jauh dari rumah, transmisi harian itu melemah. Bahkan jika mereka kembali, rantai kesinambungan budaya bisa menjadi rapuh.
Inilah sebabnya banyak pengamat menyebut isu ini lebih dari sekadar kebijakan pendidikan. Jika satu generasi tumbuh tanpa kefasihan bahasa Uyghur, tanpa kepercayaan diri budaya, dan tanpa keintiman keluarga yang bebas dari pengawasan, masa depan komunitas akan berubah. Budaya bisa bertahan dari penindasan, tetapi sulit bertahan dari putusnya transmisi.
Dan putusnya transmisi tidak selalu tampak kejam. Kadang ia tampak seperti seorang anak yang menjawab ibunya dalam bahasa Mandarin.
Gulnisa masih menyimpan buku catatan itu. Labelnya memudar di sudut-sudut karena sering disentuh. Dalam ingatannya, tulisan tangan di sana lebih jelas daripada tintanya. Ia adalah bukti bahwa pernah ada masa ketika menyiapkan anak ke sekolah adalah tindakan sederhana: tas, sikat gigi, nama di atas kertas.
Kini namanya masih ada, tetapi dunia di sekitarnya telah berubah. Bahasa Mandarin anaknya sangat baik. Bahasa Uyghurnya hilang. Ia tidak selalu tidak bahagia. Ia tertawa bersama teman-temannya. Ia berbicara tentang masa depan. Ia telah mempelajari bahasa penindas dan melupakan bahasa ibunya.
Namun ketika Gulnisa mencoba menghibur dalam bahasa Uyghur, kata-katanya jatuh seperti koin asing—nyata, tetapi tak berguna. Ketika ia berbicara tentang sejarah keluarga, anaknya mendengarkan dengan sopan dan tidak memahami satu kata pun.
Anak bisa belajar bahasa Mandarin tanpa kehilangan bahasa Uyghur. Pendidikan bisa memperluas kesempatan tanpa menghapus warisan. Namun ketika pendidikan dipasangkan dengan pemisahan dan lingkungan politik yang memandang perbedaan budaya sebagai ancaman, garis antara kesempatan dan penghapusan menjadi jelas.
Ketakutan terdalam banyak keluarga Uyghur bukan bahwa anak-anak mereka akan berhenti ada. Ketakutan itu adalah bahwa anak-anak mereka akan ada di tempat lain—secara bahasa, budaya, dan emosi—tanpa alat untuk kembali. Dan di dalam ketakutan itu ada satu pertanyaan manusia yang sederhana, yang tak bisa dijawab oleh slogan apa pun:
Apa arti sebuah pendidikan jika harganya adalah bahasa ibu seorang anak?
Copyright Center for Uyghur Studies - All Rights Reserved
