Pusat Studi Uyghur menyambut penerbitan edisi Bahasa Indonesia dari buku Menace: China’s Colonization of the Islamic World and Uyghur Genocide (2021) karya Direktur Eksekutif Pusat Studi Uyghur, Abdulhakim Idris. Edisi Bahasa Indonesia ini diterbitkan pada 2025 dengan judul Uyghur, China, dan Ekonomi Politik Global. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap informasi dan kajian mengenai isu Uyghur, termasuk bagaimana pemerintah Tiongkok membangun pengaruh dan menjalankan manuver diplomasi di negara-negara Muslim.
Dalam buku ini, Abdulhakim Idris secara detail mengungkap dinamika geopolitik antara China dan negara-negara Muslim. Dia menelusuri perjalanan historis kemunculan dan perkembangan etnis Uyghur dan riwayat perjuangan tokoh-tokoh Uyghur untuk mempertahankan keyakinan dan eksistensi mereka di hadapan rezim totaliter Partai Komunis China. Idris juga mengungkap berbagai kontribusi signifikan etnis Uyghur terhadap peradaban Islam, dengan membandingkan kenyataan tragis bahwa ada orang-orang yang dikhianati saudaranya sendiri untuk tujuan-tujuan ekonomi sesaat.
Faktor utama yang membuat dunia Muslim diam adalah semakin meningkatnya ketergantungan mereka pada proyek Belt and Road Initiative (BRI), alat utama Partai Komunis China untuk melakukan hegemoni ekonomi global. Beijing telah menempatkan dirinya sebagai sumber utama pembiayaan infrastruktur, transportasi, dan telekomunikasi mulai dari kawasan Pasifik hingga Amerika Latin. Pada 2025, nilai proyek BRI telah mencapai kira-kira 213 miliar dollar. Sebagian besar proyek ini berada di kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengan dan Afrika Utara–kawasan berpenduduk mayoritas Muslim.
Beijing telah berhasil menjadikan pengaruh diplomatiknya sebagai senjata untuk mempengaruhi Organisasi Kerjasama Islam (OKI) agar bersikap ‘netral’ dan berhasil membuat organisasi ini menjadi saluran propaganda Beijing. Komunikasi tingkat-tinggi dengan para pejabat OKI telah memungkinkan Partai Komunis China menyebarkan narasi palsu; bahwa kebijakan kejam mereka di tanah air Uyghur merupakan bentuk kebijakan anti-ekstrimisme. Negara-negara seperti ini Pakistan, dan Iran–yang sangat tergantung pada investasi China–secara konstan berpihak pada Beijing dalam forum-forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pengaruh Partai Komunis China lebih dari sekedar pengaruh ekonomi, tetapi juga meliputi aspek keamanan dan media di negara-negara Muslim. Pemberitaan media seringkali mengutamakan propaganda pro-Beijing daripada laporan-laporan faktual terkait dengan kekejaman di Turkistan Timur. Lebih jauh lagi, pemerintahan lokal juga terus melakukan intimidasi terhadap upaya-upaya advokasi pro Uyghur. Pada 2024, berbagai kegiatan Pusat Studi Uyghur di Indonesia mendapatkan pengawasan ketat dari aparat kepolisian. Ada upaya-upaya untuk menggagalkan publikasi buku Abdulhakim Idris ke dalam Bahasa Indonesia, dan pembatasan perjalanan diberlakukan terhadap perwakilan organisasi.
Edisi Bahasa Indonesia dari buku Menace ini merupakan langkah penting agar buku ini dapat diakses dan menjadi bekal bagi para pelajar, akademisi, perumus kebijakan, dan masyarakat sipil di Indonesia dengan kajian mendalam terhadap dimensi ideologi, politik, dan hak asasi manusia dari genosida Uyghur, persepsi agama, pelanggaran HAM terhadap Muslim Uyghur sekaligus ambisi kolonial rezim China terhadap negara-negara Muslim.
Penerbitan dan penerjemahan riset ini menjadi bagian dari komitmen Pusat Studi Uyghur untuk memperluas akses terhadap kajian berkualitas dalam berbagai bahasa. Melalui inisiatif semacam ini, Pusat Studi Uyghur berupaya membuka ruang dialog, meningkatkan kesadaran publik mengenai isu Uyghur, sekaligus memperkuat upaya advokasi bagi masyarakat Uyghur.
BACA EBOOK
Skip to PDF contentCopyright Center for Uyghur Studies - All Rights Reserved