Bulan Ramadan seharusnya menjadi waktu kedamaian, ibadah, dan perenungan bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, bagi Muslim Uyghur di Turkistan Timur (atau Daerah Otonom Uyghur Xinjiang), Ramadan kerap menjadi simbol penderitaan dan represi yang terus berlangsung. Di bawah pemerintahan Komunis Tiongkok, kebebasan beragama rakyat Uyghur semakin dibatasi, terutama selama bulan suci ini.
Laporan dari berbagai organisasi hak asasi manusia menunjukkan bahwa Muslim Uyghur menghadapi larangan berpuasa, pengawasan ketat di masjid, serta ancaman hukuman atas praktik keagamaan mereka. Pegawai pemerintah, pelajar, dan aparatur sipil dilaporkan dipaksa makan dan minum pada siang hari selama Ramadan sebagai “bukti loyalitas” kepada negara. Tindakan semacam ini bukan hanya melanggar kebebasan beragama, tetapi juga merendahkan martabat individu yang menjadikan puasa sebagai rukun dasar iman mereka.
Represi ini terjadi dalam konteks yang lebih luas di Turkistan Timur, di mana kamp-kamp konsentrasi yang diberi label sebagai “pusat pendidikan ulang” telah dibangun secara masif. Jutaan Uyghur diyakini telah ditahan, baik sebelumnya maupun saat ini, tanpa proses hukum yang semestinya. Di dalam kamp-kamp tersebut, praktik keislaman seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan berpuasa diperlakukan sebagai tanda ekstremisme. Ramadan, yang seharusnya menumbuhkan kesabaran dan ketakwaan, justru dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Yang lebih menyedihkan lagi, keluarga-keluarga dipisahkan, anak-anak dipaksa mengikuti sistem pendidikan yang menafikan identitas agama dan budaya mereka, serta masjid-masjid dihancurkan atau ditempatkan di bawah pengawasan ketat. Semua ini mencerminkan upaya sistematis untuk mengikis identitas Uyghur sebagai Muslim dan sebagai suatu bangsa yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, berpuasa di bulan Ramadan menjadi bentuk “perlawanan sunyi”, sebuah ibadah yang dijalankan dalam ketakutan, namun tetap berakar kuat pada iman.
Penindasan terhadap Uyghur bukan sekadar urusan domestik Tiongkok—sebagaimana sering dibingkai dalam prinsip “non-intervensi”—melainkan persoalan kemanusiaan universal. Ramadan seharusnya mengingatkan umat Muslim di seluruh dunia akan nilai empati, keadilan, dan keberpihakan kepada yang tertindas. Kesadaran, doa yang berkelanjutan untuk Uyghur, serta tekanan internasional yang konsisten sangat penting untuk mengakhiri represi ini. Selama Ramadan masih dijalani dalam ketakutan oleh saudara-saudara kita di Turkistan Timur, suara keadilan harus terus bergema.
Disusun oleh,
Unit Riset
Center for Uyghur Studies – Malaysia
Copyright Center for Uyghur Studies - All Rights Reserved